Monday, November 11, 2019

Mengulas Lebih Jauh Kisah Terjadinya Perang Mu’tah


Mempelajari tentang sejarah memang penting sekali dalam kehidupan kita. Apalagi saat ini ada banyak sekali berita terbaru dan paling up to date dari inews. Pastinya ada banyak hal yang bisa anda peroleh dari informasi yang sudah dihadirkan. Tak terkecuali untuk beberapa resep makanan terbaru. Kali ini pembahasan kita pun akan meluas mengenai perang mu’tah. Memang banyak sekali tragedi perang yang sudah terjadi di tengah kita.

Kali ini pembahasan pun terkait dengan perang mu’tah. Sebetulnya mu’tah ini merupakan sebuah desa yang lokasinya berada disekitaran Balqa’di Syam. Peperangan tersebut memang sudah terjadi pada bulan Jumadal Ula setidaknya tahun 8 H. Pada saat itu memang banyak sekali jumlah dari pasukan kaum muslimin yang mencapai 3000 personil. Kala itu kaum muslimin memang berusaha menyambut penuh suka cita atas komandannya Rasulullah saw.

Pasukan yang berasal dari kaum muslimin ini akhirnya pun mulai bergerak dan akhirnya memutuskan untuk singgah di Syam. Mereka sudah mendengar jika raja Hiraklius dengan jumlah pasukannya mencapai 100 ribu pasukan sudah sampai di Balqa’ bahkan masih diperkuat lagi dengan pasukan yang berasal dari kabilah Aarab dengan jumlah 100 ribu pasukan. Ketika mendengar banyaknya jumlah pasukan yang berasal dari pihak musuh akhirnya kaum muslimin pun berusaha menetap di Ma’an kurang lebih selama 2 malam.

Saat menyaksikan sebuah gelagat dari kaum muslimin yang merasa penuh keraguan dalam berperang, maka Abdullah ibu Rawahah selalu berusaha menggelorakan semangat yang ia miliki. Setelah mendengar sebuah seruan akhirnya pasukan kaum muslimin seakan tergugah dan berusaha mengikuti perang mu’tah. Para pasukan kala itu berusaha bergerak maju pada perbatasan Balqa’ lebih tepatnya lagi tentu saja berada di Masyarif. Saat itu juga mereka memang mendapati adanya pasukan Hiraklius yang memang terdiri dari bangsa Arab maupun Romawi.

Saat musuh sudah mulai mendekat, pasukan dari kaum muslimin pun kini bergeser pada desa lainnya yang dikenal dengan nama Mu’tah hingga akhirnya di desa tersebut kedua pasukan memang berhadapan. Kaum muslimin ini sudah bersiaga dengan menunjukkan Qutbah bin Qatadah Radhiyallahu anhu yang berlaku sebagai komandan pada sayap kanan sedangkan pada sayap kiri ada Ubadah bin Malik al-Anshari Radhiyallahu anhu.

Perang mu’tah yang sengit pun berkecamuk, Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu mulai melesat menuju ke barisan para musuh dengan membawa para panji Rasulullah saw. Mereka pun berperang penuh dengan semangat bahkan menerjang menuju ke barisan para musuh sampai syahid tertusuk oleh sebuah tombak dari musuh. Para panji akhirnya berada di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Bahkan perang mu’tah pun kini mulai berkecamuk kembali. Hanya saja Ja’far Radhiyallahu anhu tidak memperoleh celah sama sekali untuk bisa keluar dari kepungan musuhnya.

Beliau memang berusaha untuk meloncat dari punggung kuda yang sudah ia tunggangi dengan menebas keempat kaki kudanya dilanjut dengan menyeruak hingga ke bagian tengah barisan. Dari sana akhirnya terjadilah syahid. Ja’far bisa dikatakan sebagai orang islam yang pertama dimana ia telah membunuh kudanya sendiri saat berada di medan perang. Seorang Ibu Hisyam rahimahullah memang sudah meriwayatkan jika sejumlah ulama sudah dianggap tsiqah. Kala itu Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu memang berusaha untuk memegang para panjinya menggunakan tangan kanan. Hanya saja mereka kemudian ditebas oleh musuhnya sampai putus. Ia pun lantas memegang menggunakan tangan kirinya dan kemudian ditebas oleh para musuhnya sampai putus. Akhirnya para panji pun didekap menggunakan pangkal lengannya sampai ia pun gugur pada usia 33 tahun. Dari sejumlah pengorbanannya tadi Allah Azza wa jalla mengganti kedua tangannya tersebut dengan sepasang sayap sehingga beliau bisa bebas terbang sesuka hatinya dalam jannah.

Saat Ja’far Radhiyallahu anhu sudah terbunuh sehingga para panji berhasil diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu anhu dan akhirnya ia memilih menerjam maju. Sampai akhirnya selang beberapa lama beliau pun berusaha untuk turun dari kuda yang ia tunggangi. Hanya saja kala itu memang beliau dihinggapi sebuah keraguan kemudian ia pun bersyair supaya mampu menguatnya dan meniru kedua sahabat yang tadinya sudah gugur.

Ibnu Rawahah Radhiyallahu anhu ini pada akhirnya memilih turun dari kuda dan mereka juga menghampiri sepupunya dengan membawakan sepotong tulang namun hanya menyisakan sedikit daging saja. Beliau berkata makanlah supaya kekuatan bisa kembali pulih. Ibnu Rawahah ini akhirnya mengambil dagingnya dan memakan daging tersebut. Hanya saja ketika sekali gigitan, ia mendengarkan ada suara hiruk-pikuk yang berasal dari arah tertentu. Saat mendengarkan sebuah seruan akhirnya daging pun dilemparkan sembari menghunus pedangnya. Ia mulai maju dan ikut mengikuti perang mu’tah sampai syahid.

Saat ketiga panglima sudah terbunuh akhirnya para panji pun mulai diambil alih oleh Tsabit bin Arqam al’Ajlani dan menyerukan kepada kaum muslimin supaya mereka menunjuk seseorang supaya memimpin kaum muslimin. Dan akhirnya kesepakatan pun didapatkan dengan menujuk Khalid ibnul Walid yang bertugas sebagai panglima.

.

Bagikan

Jangan lewatkan

Mengulas Lebih Jauh Kisah Terjadinya Perang Mu’tah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.